Get Gifs at CodemySpace.com

Selasa, 06 Maret 2012

Mendidik AnaK agar mandiri

Orang tua mana yang tidak mau melihat anaknya tumbuh menjadi anak yang mandiri. Tampaknya memang itulah salah satu tujuan yang ingin  dicapai  orang tua dalam mendidik anak-anaknya.
Sikap mandiri sudah dapat dibiasakan sejak anak masih kecil: memakai pakaian sendiri, menalikan  sepatu  dan  bermacam  pekerjaan-pekerjaan  kecil  sehari-hari  lainnya. Kedengarannya mudah, namun dalam prakteknya pembiasaan ini banyak hambatannya. Tidak jarang orang tua merasa tidak tega atau justru tidak sabar melihat si kecil yang berusaha  menalikan  sepatunya  selama  beberapa  menit,  namun  belum  juga memperlihatkan  keberhasilan.  Atau  langsung  memberi  segudang  nasehat,  lengkap dengan  cara  pemecahan  yang harus  dilakukan,  ketika  anak  selesai  menceritakan pertengkarannya dengan teman sebangku. Memang masalah yang dihadapi anak seharihari dapat dengan mudah diatasi dengan adanya campur tangan orang tua. Namun cara ini tentunya tidak akan membantu anak untuk menjadi mandiri. Ia akan terbiasa “lari” kepada orang tua apabila menghadapi persoalan, dengan perkataan lain ia terbiasa tergantung pada orang lain, untuk hal-hal yang kecil sekalipun.
Lalu  upaya  yang  dapat  dilakukan  orang  tua  untuk  membiasakan  anak agar tidak cenderung menggantungkan diri pada seseorang, serta mampu mengambil keputusan? Di bawah ini ada beberapa hal yang dapat Anda terapkan untuk melatih anak menjadi mandiri.
1. Beri kesempatan memilih
Anak  yang  terbiasa  berhadapan  dengan  situasi  atau  hal-hal  yang  sudah ditentukan  oleh  orang  lain,  akan  malas  untuk  melakukan  pilihan  sendiri. Sebaliknya bila ia terbiasa dihadapkan pada beberapa pilihan, ia akan terlatih untuk membuat keputusan sendiri bagi dirinya. Misalnya, sebelum menentukan menu di hari itu, ibu memberi beberapa alternatif masakanyang dapat dipilih anak untuk makan siangnya. Demikian pula dalam memilih pakaian yang akan dipakai untuk pergi ke pesta ulang tahuntemannya,misalnya. Kebiasaan untuk membuat keputusan  keputusan sendiri dalam lingkup kecil sejak diniakan memudahkan untuk kelak menentukan serta memutuskan sendiri hal-hal  dalam kehidupannya.
2. Hargailah usahanya
Hargailah sekecil apapun usaha yang diperlihatkan anak untuk mengatasi sendiri kesulitan yang ia hadapi. Orang tua biasanya tidak sabar menghadapi anak yang membutuhkan waktu lama untuk membuka sendiri kaleng permennya. Terutama bila saat itu ibu sedang sibuk di dapur, misalnya. Untuk itu sebaiknya otang tua memberi kesempatan padanya untuk mencoba dan tidak langsung turun tangan untuk  membantu  membukakannya.  Jelaskan juga  padanya  bahwa  untuk membuka kaleng akan lebih mudah kalaumenggunakan ujung sendok, misalnya. Kesempatan yang anda berikan ini akan dirasakan anak sebagai penghargaan atas usahanya, sehingga akan mendorongnya untuk melakukan sendiri hal-hal kecil seperti itu.
3. Hindari banyak bertanya Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan orang tua
,yang sebenarnya dimaksudkan untuk menunjukkan perhatian pada si anak, dapat diartikan sebagai sikap yang terlalu banyak mau tahu. Karena itu hindari kesan cerewet. Misalnya, anak yang baru  kembali  dari  sekolah,  akan  kesal  bila  diserang dengan  pertanyaan -pertanyaan seperti, “Belajar apa saja di  sekolah?”,  dan  “Kenapa seragamnya kotor? Pasti kamu berkelaihi lagi di sekolah!” dan seterusnya. Sebaliknya, anak akan senang dan merasa diterima apabila disambut dengan kalimat pendek : “Halo anak ibu sudah pulang sekolah!” Sehingga kalaupun ada hal-hal yang ingin ia ceritakan, dengan sendirinya anak akan menceritakan pada orang tua, tanpa harus di dorong-dorong.
4. Jangan langsung menjawab pertanyaan
Meskipun salah tugas orang tua adalah memberi informasi serta pengetahuan yang benar kepada anak, namun sebaiknya orang tua tidak langsung menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Sebaliknya, berikan kesempatan padanya untuk menjawab pertanyaan tersebut. Dan tugas Andalah untuk mengkoreksinya apabila salah menjawab atau memberi penghargaan kalau ia benar. Kesempatan ini  akan  melatihnya untuk  mencari alternatif-alternatif  dari  suatu  pemecahan masalah. Misalnya, “Bu, kenapa sih, kita harus mandi dua kali sehari? ” Biarkan anak memberi beberapa jawaban sesuai dengan apa yang ia ketahui. Dengan demikian pun anak terlatih untuk tidak begitu saja menerima jawaban orang tua, yang akan diterima mereka sebagai satu jawaban yang baku.
5. Dorong untuk melihat alternatif
Sebaiknya anak pun tahu bahwa untuk nmengatasi suatu masalah , orang tua bukanlah satu-satunya tempat untuk bertanya. Masih banyak sumber-sumber lain  di  luar  rumah  yang  dapat  membantu  untuk  mengatasi  masalah  yang dihadapi.  Untuk  itu,  cara  yang  dapat  dilakukan  orang  tua  adalah  dengan memberitahu sumber lain yang tepat untuk dimintakan tolong, untuk mengatasi suatu masalah tertentu. Dengan demikian anak tidak akan hanya tergantung pada orang tua, yang bukan tidak mungkin kelak justru akan menyulitkan dirinya sendiri  . Misalnya, ketika si anak datang pada orang tua dan mengeluh bahwa sepedanya mengeluarkan bunyi bila dikendarai. Anda dapat memberi jawaban : “Coba,ya, nanti kita periksa ke bengkel sepeda.”
6. Jangan patahkan semangatnya
Tak  jarang  orang  tua  ingin  menghindarkan  anak  dari  rasa  kecewa  dengan mengatakan “mustahil” terhadap apa yang sedang diupayakan anak. Sebenarnya apabila anak sudah mau memperlihatkan keinginan untuk mandiri, dorong ia untuk  terus  melakukanya.  Jangan  sekali-kali  anda  membuatnya  kehilangan motivasi atau harapannya mengenai sesuatu yang ingin dicapainya. Jika anak minta  ijin  Anda,  “Bu,  Andi  mau  pulang  sekolah  ikut  mobil  antar  jemput, bolehkan? ” Tindakan untuk menjawab : “Wah, kalau Andi mau naik mobil antar jemput, kan Andi harus bangun pagi dan sampai di rumah lebih siang. Lebih baik tidak usah deh, ya” seperti itu tentunya akan membuat anak kehilangan motivasi untuk mandiri. Sebaliknya ibu berkata “Andi mau naik mobil antar jemput? Wah, kedengarannya menyenangkan, ya. Coba Andi ceritakan pada ibu kenapa andi mau naik mobil antar jemput.” Dengan cara ini, paling tidak anak mengetahui bahwa orang tua sebenarnya mendukung untuk bersikap mandiri. Meskipun akhirnya, dengan alasan-alasan yang Anda ajukan, keinginannya tersebut belum dapat di penuhi.

Jumat, 02 Maret 2012

Problematika Pembelajaran Matematika SD

Matematika Kelas Rendah

Tujuan pendidikan dasar adalah meletakkan dasar kecerdasan, penegtahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta ketrampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut (Mansur, 2007:29). Salah satu komponen untuk mencapai tujuan tersebut adalah pembelajaran matematika tingkat sekolah dasar.
Matematika adalah ilmu tentang logika mengenai bentuk susunan, besaran dan konsep-konsep yang saling berhubungan satu sama lainnya dalam jumlahnya terbagi dalam tiga bidang, yaitu aljabar, analisis dan geometri.
Matematika merupakan mata pelajaran yang bersifat abstrak sehingga dituntut kemampuan yang besrsifat abstrak sehingga dituntut kemampuan guru untuk dapat mengupayakan metode yang tepat sesuai dengan tingkat perkembangan mental siswa (H.W. Fowlwer dalam Pandoyo,1997:1). Untuk itu, diperlukan model dan media pembelajaran yang dapat membantu siswa untuk mencapai kompetensi dasar dan indikator pembelajaran.

Pembelajaran matematika yang hanya menekankan pada pemerolehan informasi sebagai kumpulan pengetahuan sebelumnya merupakan pandangan kaum behavioristik. Menurut kaum behavioris, pengetahuan itu pengumpulan secara pasif dari subyek dan obyek yang diperkuat oleh lingkungannya (Bettencourt dalam Suparno, 1997:62).
Berbeda dengan behaviorisme, konstruktivisme beranggapan pengalaman adalah hasil konstruksi manusia melalui interaksi mereka dengan obyek, fenomena, pengalaman, dan lingkungan mereka (Suparno, 1997:28). Menurut konstruktivisme seorang harus menentukan dan mengkonstruk pengetahuannya sendiri secara aktif. Bila behaviorisme menekankan ketrampilan sebagai tujuan pengajaran, konstruktivisme lebih menekankan perkembangan konsep dan pengertian yang mendalam (Suparno, 1997:59).

Pembelajaran matematika yang terjadi selama ini adalah pembelajaran yang hanya menekan pada perolehan hasil dan mengabaikan pada proses. Sehingga siswa mengalami kesulitan dalam mengerjakan dalam bentuk soal yang lain. Akibat dari pembelajaran yang hanya menekankan hasil adalah hasil yang dicapai tidak tahan lama atau anak akan mudah lupa pada materi pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru.
Salah satu permasalahan yang terjadi di Pembelajaran Matematika kelas rendah adalah operasi hitung yang bilangan pengurangya mengandung angka yang lebih besar. Misalnya 31 – 19 = …

Untuk memecahkan problematika pembelajaran tersebut maka guru perlu menggunakan, media, dan pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan materi yang digunakan dalam pembelajaran. Secara lebih rinci untuk mengatasi permasalahan  tersebut adalah sebagai berikut.
  1. Menggunakan media benda kongkret. Mengapa menggunakan media yang konkret untuk penaman konsep pengurangan? Sebab dalam usia siswa SD kelas rendah (7-9 tahun) tahap pemikiran anak adalah tahap pemikiran konkrit. Dalam tahapan pemikiran kongkrit ini proses pembelajarannya memerkun media benda-benda yang kongkrit, misalnya menggunakan kelereng, biji-bijian, buah-buahan dan lainnya. Dengan pembelajaran pengurangan menggunakan media kongkrit ini anak tahu proses pengurangan secara lebih bermakna. Menurut Peget pada usia siswa SD kelas rendah perkembangan intelektualnya pada tahap operasional kongkrit, yang pengembangan pemikirannya secara logis.
  2. Menggunakan gambar benda kongkrit. Melambangkan nilai bilangan dengan gambar benda kongkrit sehingga siswa dapat melakukan operasi matematika yang mengandung bilangan pengurang yang lebih besar.
  3. Menentukan hasil pengurangan dengan cara panjang.    
  4. Menentukan hasil bilangan secara bersusun.
  5. Bermain peran.
  6. Menggunakan model pembelajaran STAD (Student Team Achiefment Devision).
Hal lain yang penting dalam pembelajaran matematika adalah mengkaitkan materi pembelajaran dengan lingkungan sekitar siswa atau lebih dikenal dengan pembelajaran kontekstual (Contekstual Learning). Dengan demikian anak dapat menggunakan operasi hitung dalam kehupan sehari-hari. Pembelajaran yang kontekstual antara lain menggunakan soal cerita. Soal cerita dibuat dengan menggunakan lingkungan sekitar sebagai obyek dalam mebuat soal cerita. Misalnya daerah panta menngunaka soal cerita menggunakan ikan, kerang, daerah penggunungan menggunakan buah-buahan  dan sayuran.

Perbedaan Ilmu Dan penGetahuan

1.    Ada perbedaan prinsip antara ilmu dengan pengetahuan. Ilmu merupakan kumpulan dari berbagai pengetahuan, dan kumpulan pengetahuan dapat dikatakan ilmu setelah memenuhi syarat-syarat objek material dan objek formal 

2.     Ilmu bersifat sistematis, objektif dan diperoleh dengan metode tertentu seperti observasi, eksperimen, dan klasifikasi. Analisisnya bersifat objektif dengan menyampingkan unsur pribadi, mengedepankan pemikiran logika, netral (tidak dipengaruhi oleh kedirian atau subjektif). 

3.    Pengetahuan adalah keseluruhan pengetahuan yang belum tersusun, baik mengenai matafisik maupun fisik, pengetahuan merupakan  informasi yang berupa common sense,  tanpa memiliki metode, dan mekanisme tertentu. Pengetahuan berakar pada adat dan tradisi yang menjadi kebiasaan dan pengulangan-pengulangan. Dalam hal ini landasan pengetahuan kurang kuat cenderung kabur dan samar-samar. Pengetahuan tidak teruji karena kesimpulan ditarik berdasarkan asumsi yang tidak teruji lebih dahulu.  Pencarian pengetahuan lebih cendrung trial and error dan berdasarkan pengalaman belaka

Jumat, 06 Januari 2012

MOTIVASI BELAJAR

Motivasi belajar setiap orang, satu dengan yang lainnya, bisa jadi tidak sama.
Biasanya, hal itu bergantung dari apa yang diinginkan orang yang bersangkutan.
Misalnya, seorang anak mau belajar dan mengejar rangking pertama karena diimingimingi
akan dibelikan sepeda oleh orangtuanya. Contoh lainnya, seorang mahasiswa
mempunyai motivasi belajar yang tinggi agar lulus dengan predikat /cum laude/. Setelah
itu, dia bertujuan untuk mendapatkan pekerjaan yang hebat dengan tujuan
membahagiakan orangtuanya. Apa saja, sih, faktor-faktor yang membedakan motivasi
belajar seseorang dengan yang lainnya? Beberapa faktor di bawah ini sedikit banyak
memberikan penjelasan mengapa terjadi perbedaaan motivasi belajar pada diri masingmasing
orang, di antaranya:
1. Perbedaan fisiologis (physiological needs), seperti rasa lapar, haus, dan hasrat seksual .
2. Perbedaan rasa aman (safetyneeds), baik secara mental, fisik, dan intelektual.
3. Perbedaan kasih sayang atau afeksi (love needs) yang diterimanya
4. Perbedaan harga diri (selfesteemneeds). Contohnya prestisememiliki mobil atau rumah
mewah, jabatan, dan lain-lain.
5. Perbedaan aktualisasi diri(self actualization), tersedianya kesempatan bagi seseorang
untuk mengembangkan potensi yang terdapat dalam dirinya sehingga berubah menjadi
kemampuan nyata.
Stimulus motivasi belajar Terdapat 2 faktor yang membuat seseorang dapat
termotivasi untuk belajar, yaitu:
1. Pertama, motivasi belajar berasal dari faktor internal. Motivasi ini terbentuk
karena kesadaran diri atas pemahaman betapa pentingnya belajar untuk
mengembangkan dirinya dan bekal untuk menjalani kehidupan.
2. Kedua,motivasi belajar dari faktor eksternal, yaitu dapatberupa rangsangan dari
orang lain, atau lingkungan sekitarnya yang dapat memengaruhi psikologis orang
yang bersangkutan. Tips-tips meningkatkan motivasi belajar Motivasi belajar
tidak akan terbentuk apabila orang tersebut tidak mempunyai keinginan, cita-cita,
atau menyadari manfaat belajar bagi dirinya.
Oleh karena itu, dibutuhkan pengkondisian tertentu, agar diri kita atau siapa pun
juga yang menginginkan semangat untuk belajar dapat termotivasi. Yuk, ikuti tips-tips
berikut untuk meningkatkan motivasi belajar kita.
  1. Bergaullahdenganorang-orangyang senang belajar.Bergaul denganorang-orang yang senang belajar dan berprestasi, akan membuat kita pun gemar belajar. Selain itu, coba cari orang atau komunitas yang mempunyai kebiasaan baik dalam belajar. Bertanyalah tentang pengalaman di berbagai tempat kepada orang-orang yang pernah atau sedang melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi, orang-orang yang mendapat beasiwa belajar di luar negeri, atau orang-orang yang mendapat penghargaan atas sebuah presrasi. Kebiasaan dan semangat mereka akan menular kepada kita. Seperti halnya analogi orang yang berteman dengan tukang pandai besi atau penjual minyak wangi. Jika kita bergaul dengan tukang pandai besi, maka kita pun turut terciprat bau bakaran besi, dan jika bergaul dengan penjual minyak wangi, kita pun akan terciprat harumnya minyak wangi.
  2. Belajar apapun, Pengertian belajar di sini dipahami secara luas, baik formal maupun nonformal. Kita bisa belajar tentang berbagai keterampilan seperti merakit komputer, belajar menulis, membuat film, berlajar berwirausaha, dan lain-lainnya.Belajar dari internet, Kita bisa memanfaatkan internet untuk bergabung dengan kumpulan orang-orang yang senang belajar. Salah satu milis dapat menjadi ajang kita bertukar pendapat, pikiran, dan memotivasi diri. Sebagai contoh, jika ingin termotivasi untuk belajar bahasa Inggris, kita bisa masuk ke milis Free-English-Course@yahoogroups.com. 
  3. Bergaulah dengan orang-orang yang optimis dan selalu berpikiran positif. Di dunia ini, ada orang yang selalu terlihat optimis meski masalah merudung. Kita akan tertular semangat, gairah, dan rasa optimis jika sering bersosialisasi dengan orang-orang atau berada dalam komunitas seperti itu, dan sebaliknya.
  4. Cari motivator. Kadangkala, seseorang butuh orang lain sebagai pemacu atau mentor dalam menjalani hidup. Misalnya: teman, pacar, ataupun pasangan hidup. Anda pun bisa melakukan hal serupa dengan mencari seseorang/komunitas yang dapat membantu mengarahakan atau memotivasi Anda belajar dan meraih prestasi.

BIMBINGAN DISEKOLAH DASAR PATR II

  I. HAKEKAT BIMBINGAN DI SD
1. MAKNA DAN PRINSIP UMUM BIMBINGAN
2. KEDUDUKAN DAN PERMASALAHAN BIMBINGAN DI SD
3. HUBUNGAN PENDIDIKAN DENGAN KURIKULUM
4. PENDEKATAN PERKEMBANGAN DALAM BIMBINGAN
II.TEKNIK-TEKNIK MEMAHAMI PERKEMBANGAN MURID
1. TEKNIK TES
2. TEKNIK NON TES
III.BIMBINGAN BELAJAR   (kelompok 1)
  1. DIFINISI BELAJAR
  2. BIMBINGAN BELAJAR
  3. JENIS-JENIS MASALAH BELAJAR
  4. MENGIDENTIFIKASI MURID YANG DIPERKIRAKAN MENGALAMI MASALAH BELAJAR
  5. FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB TERJADINYA MASALAH BELAJAR MURID SD
  6. UPAYA MEMBANTU MURID DALAM MENGATASI MASALAH BELAJAR
IV. BIMBINGAN BAGI MURID TUNA CAKAP BELAJAR   (kelompok 2)
  1. PENGERTIAN DAN JENIS TUNA CAKAP BELAJAR
  2. JENIS-JENIS TUNA CAKAP BELAJAR
  3. KARAKTERISTIK MURID TUNA CAKAP BELAJAR
  4. IDENTIFIKASI KETUNACAKAPAN BELAJAR
  5. FAKTOR-FAKTOR YANG MENIMBULKAN KETUNACAKAPAN BELAJAR
  6. TEKNIK MEMBANTU MURID TUNA CAKAP BELAJAR DAN PENCEGAHANNYA
V. BIMBINGAN BAGI MURID CERDAS  DAN BERBAKAT    (kelompok  3)
  1. DASAR FORMAL DAN EMPIRIK PELAKSANAAN BIMBINGAN BAGI   MURID CERDAS DAN BERBAKAT DI SD
  2. PENGERTIAN MURID CERDAS DAN BERBAKAT
  3. KEBUTUHAN DAN KARAKTERISTIK MURID CERDAS DAN    BERBAKAT
  4. IDENTIFIKASI MURID CERDAS DAN BERBAKAT
  5. PENYELANGGARAAN PENDIDIKAN BAGI MURID CERDAS DAN BERBAKAT
  6. TEKNIK BIMBINGAN BAGI  MURID CERDAS DAN BERBAKAT
  7. PENYELENGGARAAN KELAS UNGGULAN SEBAGAI MODEL BIMBINGAN BAGI MURID CERDAS DAN BERBAKAT

VI. BIMBINGAN BAGI MURID BERKELAINAN     (kelompok  4)
  1. PENGERTIAN MURID BERKELAINAN
  2. HAK DAN KEBUTUHAN MURID BERKELAINAN
  3. JENIS-JENIS MURID BERKELAINAN
  4. KARAKTERISTIK SETIAP JENIS MURID BERKELAINAN
  5. FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB MURID BERKELAINAN
  6. ALTERNATIF BANTUAN SERTA BIMBINGAN KHUSUS YANG DIBERIKAN BAGI MURID BERKELAINAN
VII. BIMBINGAN BAGI ANAK BERPERILAKU BERMASALAH (kelompok  5)
  1. PENGERTIAN DAN JENIS PERILAKU BERMASALAH
  2. BENTUK-BENTUK PERILAKU BERMASALAH
  3. MASALAH-MASALAH YANG BERKAITAN DENGAN KARAKTERISTIK PERKEMBANGAN MURID SD
  4. TEKNIK MEMBANTU MURID BERMASALAH
VIII. BIMBINGAN BAGI PERKEMBANGAN WAWASAN KARIR MURID(kl 6)
  1. SELINTAS PERKEMBANGAN BIMBINGAN KARIR
  2. PENGERTIAN BIMBINGAN KARIR
  3. PENTINGNYA  BIMBINGAN KARIR
  4. TUJUAN BIMBINGAN KARIR DI SD
  5. TAHAPAN DAN KARAKTERISTIK PERKEMBANGAN KARIR MURID SD
  6. TEKNIK BIMBINGAN KARIR BAGI MURID SD
  7. MATERI  BIMBINGAN KARIR  DI SD

IX. MANAJEMEN  DAN PENDUKUNG SITEM BIMBINGAN DI SD  (klp  7)
  1. STRUKTUR PROGRAM BIMBINGAN DI SD
  2. PENGEMBANGAN PROGRAM BIMBINGAN
  3. KETERPADUAN PROGRAM BIMBINGAN DALAM KBM
  4. ORGANISASI DAN ADMINISTRASI BIMBINGAN DI SD
HAKEKAT BIMBINGAN DI SEKOLAH DASAR
DEFINISI :
BIMBINGAN ADALAH PROSES MEMBANTU INDIVIDU UNTUK MENCAPAI PERKEMBANGAN OPTIMAL
BIMBINGAN ADALAH SUATU PROSES (MERUPAKAN KEGIATAN YANG BERKELANJUTAN,BERLANGSUNG TERUS MENERUS DAN BUKAN SEKETIKA ATAU KEBETULAN).
BIMBINGAN ADALAH BANTUAN (MENGEMBANGKAN LINGKUNGAN YANG KONDUSIF BAGI PERKEMBANGAN SISWA, MEMBERIKAN DORONGAN DAN SEMANGAT, MENUMBUHKAN KEBERANIAN BERTINDAK DAN BERTANGGUNG JAWAB, MENGEMBANGKAN KEMAMPUAN UNTUK MEMPERBAIKI DAN MENGUBAH PERILAKUNYA SENDIRI).
BANTUAN DIBERIKAN KEPADA INDIVIDU (INDIVIDU YANG SEDANG BERKEMBANG DENGAN SEGALA KEUNIKANNYA).
TUJUAN BIMBINGAN ADALAH PERKEMBANGAN OPTIMAL (PERKEMBANGAN YANG SESUAI DENGAN POTENSI DAN SISTEM NILAI TENTANG KEHIDUPAN YANG BAIK DAN BENAR).
PRINSIP-PRINSIP UMUM BIMBINGAN
  • BIMBINGAN DIBERIKAN KEPADA INDIVIDU YANG SEDANG BERADA DALAM PROSES.
  • BIMBINGAN DIPERUNTUKAN BAGI SEMUA SISWA
  • BIMBINGAN DILAKSANAKAN DENGAN MEMPERDULIKAN SEMUA SEGI PERKEMBANGAN SISWA
  • BIMBINGAN BERDASAR PADA PENGAKUAN ATAS KEMAMPUAN INDIVIDU UNTUK MENENTUKAN PILIHAN
  • BIMBINGAN ADALAH BAGIAN TERPADU DARI PROSES PENDIDIKAN
  • BIMBINGAN DIMAKSUDKAN UNTUK MEMBANTU SISWA MEREALISASIKAN DIRINYA
KEDUDUKAN DAN PERMASALAHAN BIMBINGAN DI SEKOLAH DASAR
PP   No. 2/1989, PASAL 25 :
  • BIMBINGAN MERUPAKAN BANTUAN YANG DIBERIKAN KEPADA SISWA DALAM RANGKA UPAYA MENEMUKAN PRIBADI, MENGENAL LINGKUNGAN DAN MERENCANAKAN MASA DEPAN
  • BIMBINGAN DIBERIKAN OLEH GURU PEMBIMBING
MASALAH-MASALAH PERKEMBANGAN SISWA SD MENYANGKUT ASPEK:
  • PERKEMBANGAN FISIK
  • PERKEMBANGAN KOGNITIF
  • PERKEMBANGAN PRIBADI
  • PERKEMBANGAN SOSIAL
TARGET LAYANAN BIMBINGAN :
  • SISWA DENGAN KECERDASAN DAN KEMAMPUAN TINGGI
  • SISWA YANG MENGALAMI KESULITAN BELAJAR
  • SISWA DENGAN PERILAKU BERMASALAH
HUBUNGAN BIMBINGAN DENGAN KURIKULUM :
  • BIMBINGAN MERUPAKAN PIRANTI (INSTRUMEN) UNTUK MEMAHAMI RENTANG KECAKAPAN, PRESTAS, MINAT, KEKUATAN, KELEMAHAN, MASALAH DAN KARAKTERISTIK PERKEMBANGAN SISWA SEBAGAI SEGI-SEGI ESENSIAL YANG MENDASAR PERENCANAAN KEGIATAN KURIKULER
  • BIMBINGAN MEMBANTU SISWA DALAM MEMAHAMI DAN MEMASUKI KEGIATAN  BELAJAR YANG DISEDIAKAN DALAM PENGALAMAN KURIKULER
PERENCANAAN KURIKULER SEKOLAH AKAN MERUPAKAN WAHANA YANG KONDUSIF BAGI LAYANAN BIMBINGAN APABILA MEMPERHATIKAN HAL-HAL BERIKUT :
  • RANCANGAN KEGIATAN KURIKULER MENCAKUP PENGALAMAN BELAJAR YANG DAPAT MENGEMBANGKAN ASPEK RASA DAN KEHENDAK (MOTIVASI)
  • RANCANGAN KEGIATAN KURIKULER MENYEDIAKAN PENGALAMAN BAGI SISWA UNTUK MELAKSANAKAN EKSPLORASI DIRI, YAKNI BELAJAR MEMAHAMI KEADAAN DIRI SECARA REALISTIK DAN BELAJAR MERUMUSKAN SERTA MENGUJI HARAPAN DIRINYA.
  • RANCANGAN KEGIATAN KURIKULER MENYEDIAKAN PENGALAMAN BAGI SISWA YANG BERKENAAN DENGAN PENGETAHUAN DAN KETRAMPILAN YANG DIPERLUKAN DALAM PERENCANAAN KARIR DAN PENDIDIKAN

PENDEKATAN BIMBINGAN, MYRICK DALAM MURO & KOTTMAN, 1995 :
  • PENDEKATAN KRISIS
  • PENDEKATAN REMEDIAL
  • PENDEKATAN PREVENTIF
  • PENDEKATAN PERKEMBANGAN